<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Doli A</title>
	<atom:link href="http://doli08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://doli08.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 05 Jul 2010 06:28:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='doli08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Doli A</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://doli08.wordpress.com/osd.xml" title="Doli A" />
	<atom:link rel='hub' href='http://doli08.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Sekolah tanpa Sekolah: Pendidikan Alternatif &#8216;Qaryah Thayyibah&#8217; di Salatiga</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/sekolah-tanpa-sekolah-pendidikan-alternatif-qaryah-thayyibah-di-salatiga/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/sekolah-tanpa-sekolah-pendidikan-alternatif-qaryah-thayyibah-di-salatiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 07:54:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bisnis, Ekonomi, Politik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/sekolah-tanpa-sekolah-pendidikan-alternatif-qaryah-thayyibah-di-salatiga/</guid>
		<description><![CDATA[Sekolah tanpa Sekolah: Pendidikan Alternatif &#8216;Qaryah Thayyibah&#8217; di Salatiga Edisi : No.7 Tahun XXI &#124; Rubrik: Ragam &#124; Dibaca: 517 kali Tak terbayangkan dalam benak kita ada sekolah tanpa pagar, tanpa tiang bendera, tanpa bel, tanpa gedung sekolah, bahkan tanpa plang yang menunjukkan bahwa ada sekolah. Tetapi itulah yang terjadi di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=73&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekolah tanpa Sekolah: Pendidikan Alternatif &#8216;Qaryah Thayyibah&#8217; di Salatiga Edisi : No.7 Tahun XXI | Rubrik: Ragam | Dibaca: 517 kali</p>
<p>Tak terbayangkan dalam benak kita ada sekolah tanpa pagar, tanpa tiang bendera, tanpa bel, tanpa gedung sekolah, bahkan tanpa plang yang menunjukkan bahwa ada sekolah. Tetapi itulah yang terjadi di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Sebuah komunitas belajar yang mengusung ide pendidikan alternatif muncul dan mengagetkan dunia pendidikan kita yang carut marut ini. Gaungnya tidak hanya bergema di negeri ini namun sudah terdengar hingga kancah internasional.</p>
<p>Sudah mengendap dalam benak kita bahwa kalau ingin menuntut ilmu berarti kita harus sekolah. Dan itu tidak sepenuhnya salah. Masalahnya, sekolah saat ini tidak hanya menuntut tekad bulat untuk menuntut ilmu, namun juga harus diiringi kesediaan merogoh kocek dalam-dalam. Untuk menyekolahkan anak setingkat SD di sekolah negeri, meski disebut gratis, tetap ada biaya yang harus dikeluarkan orangtua saat awal masuk sekolah berkisar antara 100 hingga 500 ribu rupiah, misalnya untuk seragam, buku, dan lain-lain. Sementara untuk masuk SD swasta, apalagi SD favorit di kota besar, biaya yang dikeluarkan bisa mencapai jutaan rupiah.<span id="more-73"></span></p>
<p>Demikian juga ketika kita ingin menyekolahkan anak di tingkat SMP dan SMA. Biaya yang dikeluarkan tentu lebih tinggi. Kira-kira 500 sampai 1 juta rupiah harus disediakan orangtua pada saat penerimaan siswa baru. Uang sebesar itu tentu tidak terasa besar bagi mereka yang berpenghasilan rutin dengan jumlah jutaan rupiah. Namun bagi mereka yang tidak punya penghasilan tetap tentunya uang sejumlah itu akan sangat membebani hidup. Bayangkan saja, untuk biaya makan sehari-hari saja sudah susah apalagi harus menanggung biaya sekolah yang tidak sedikit.</p>
<p>Keresahan mengenai mahalnya biaya pendidikan pun mendorong Bahruddin, inisiator sekaligus penggerak model pendidikan alternatif di Salatiga mengajukan ide untuk membangun Learning Based Community (pendidikan berbasis komunitas) di desa Kalibening, kecamatan Tingkir, Salatiga. &#8216;Sekolah&#8217; yang pada awalnya menampung 12 siswa setingkat SMP ini diberi nama Qaryah Thayyibah (QT) yang berarti Desa milik Allah yang dilimpahi keberkahan. Kini QT sudah memiliki 150 siswa setingkat SMP dan SMA.</p>
<p>Belajar sesuai kebutuhan</p>
<p>Pendidikan akternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dia kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru (di QT disebut pendamping) hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.</p>
<p>Konsepnya mirip dengan homeschooling, namun ada beberapa hal yang membedakannya. Pertama, homeschooling masih memiliki kurikulum dan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa. Sedang di QT tidak ada acuan mata pelajaran. Semua siswa bebas menentukan apa yang ingin mereka pelajari. Kedua, pelaksanaan homeschooling sering dikritik membatasi interaksi anak dengan orang lain. Sedangkan di QT, lingkungan sekitar dan masyarakatnya adalah &#8216;sekolah&#8217; bagi siswa QT. Jadi model pendidikan alternatif dijamin tidak akan mengisolasi siswa dari lingkungannya. Justru mendorong siswa untuk terlibat aktif di lingkungannya.</p>
<p>Karena berbasis pada lingkungan pulalah, siswa QT diharapkan mampu menjawab permasalahan-permasalahan yang dihadapi lingkungan tempat mereka berada. “Ada seorang warga yang mengeluh pada anaknya kalau sekarang ini mau makan makanan yang bergizi harganya serba mahal. Lalu anaknya membawa permasalahan itu ke sekolah, anak-anak berdiskusi dan muncullah ide untuk membuat peternakan belut. Lalu anak-anak belajar tentang budidaya belut lalu sama-sama mereka praktek membudidayakannya,” cerita Bahruddin.</p>
<p>Sungguh berbeda jauh dengan kebanyakan kita yang sudah melahap berbagai pelajaran di sekolah namun tidak mampu memberikan solusi pada permasalahan sekitar. “Selama ini kita kan diajarkan agar banyak menyerap pengetahuan tapi akhirnya kita malah jadi konsumtif alias tidak produktif. Pengetahuan itu seperti vitamin, dibutuhkan untuk tubuh kita secukupnya saja jangan sampai berlebih,” tambah ayah 3 anak ini.</p>
<p>Mandiri dalam belajar</p>
<p>Pendidikan alternatif yang diusung Bahruddin sebenarnya mendidik anak agar mandiri dalam belajar. Ini hal penting yang justru sering tidak kita dapatkan di dunia pendidikan kita. Anak-anak yang pergi ke sekolah setiap pagi, pulang sore hari, 6 hari selama seminggu, kebanyakan datang ke sekolah lebih sebagai formalitas bukan dengan niat murni untuk menuntut ilmu. Sampai di sekolah pun anak memposisikan diri sebagai &#8216;wadah&#8217; yang siap menerima apa pun yang diberikan oleh guru. Padahal hakekatnya, anak bukanlah tempat kosong yang tidak berisi apa-apa. Artinya, anak-anak itu sudah memiliki bekal-bekal yang dapat mendorong mereka untuk belajar. Misalnya pengalaman, informasi dari televisi, buku maupun dari tempat lain.</p>
<p>Hal seperti itu tidak terjadi di QT. “Aku kan emang dari awal suka musik. Aku belajar sendiri dengan baca internet dan download video-video tentang musik. Terus aku mau belajar gitar, belajarnya dengan cari di internet gimana caranya main gitar lalu aku coba-coba sendiri sampai bisa. Terus kalau bikin lagu, aku kan punya temen yang bisa buat lagu ya aku belajar sama temenku itu dan ini bisa dilakukan sendiri saja dan kadang kami juga mendatangkan guru juga. Pas mau rekaman juga gitu. Aku ikut temen atau lihat Pak De (paman-red) yang memang pemusik, gimana caranya rekaman. Liat di studio, aku pelajari dan aku bawa ke sini untuk dipelajari sama-sama dengan teman-teman,” ungkap Ikhwan (19), salah seorang lulusan QT.</p>
<p>Hal menarik yang bisa kita dapatkan dari QT ini, anak jadi terbiasa belajar secara mandiri. Bayangkan, jika selama 6 tahun mereka dilatih untuk memilih sendiri apa yang akan mereka pelajari. Juga merumuskan sendiri (bersama teman satu forum) materi yang akan dipelajari dan menyiapkan sendiri segala macam perangkat yang dibutuhkan untuk belajar, maka bisa dipastikan setelah lulus &#8216;sekolah&#8217; dia tidak akan kesulitan untuk terus belajar meski sudah tidak berada di lingkungan sekolah.</p>
<p>Sementara fenomena yang sering kita lihat, banyak anak lulus SMA belum memiliki karya, bahkan banyak yang menjadi &#8216;masalah&#8217; bagi lingkungannya. Padahal dalam Islam juga ada terminologi bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi<br />
lingkungannya. Dengan kata lain orang yang paling baik bisa<br />
menyelesaikan permasalahan lingkungannya.</p>
<p>Dibebaskan justru berprestasi</p>
<p>Banyak yang berpikir bahwa untuk berprestasi anak harus diberikan pengarahan dengan ketat. Diikutkan berbagai les dengan jadwal yang padat, tidak banyak bermain-main dan penuh dengan hal serius lainnya. Ternyata hal ini terpatahkan dengan sistem pendidikan alternatif di QT. Dengan ketiadan jadwal pelajaran, tanpa guru, gedung sekolah, laboratorium justru mendorong para siswa untuk kreatif.</p>
<p>“Maia Rosyida, sudah menulis 20 buku. Saat ini umurnya 18 tahun,” ungkap Bahruddin. Saat mulai bersekolah di Qoryah Thayyibah, Maia menyampaikan kalau suka menulis, maka yang dilakukan para pendamping adalah mendukung dan mendorongnya untuk terus menulis. Hasilnya, benar-benar tak terduga, karena si anak didukung melakukan sesuatu yang sesuai minatnya, dalam waktu singkat 20 buku berhasil ditulisnya. Sebagian dijilid, di-copy dan disebarluaskan oleh pihak sekolah, sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit profesional.</p>
<p>Fina, Izza dan Siti, tiga orang siswa QT berhasil menerima penghargaan Creative Kids Award dari Yayasan Creatif Indonesia pimpinan Seto Mulyadi. Ketiga anak itu membuat karya tulis berjudul “Haruskah UN Dihapus?” Karya tulis itu dibuat sebagai tugas akhir sebelum mereka lulus dari QT.</p>
<p>Belum lagi sejumlah karya berupa hasil penelitian, film, musik yang dibuat oleh siswa-siswa QT. Semua karya tersebut ide orisinal dari si anak dengan masukan para pendamping. Beberapa siswa sudah biasa diminta berbicara di depan para pejabat publik, seperti Hilmy (15) yang diminta berpidato di depan 90 kepala sekolah berprestasi di seluruh Indonesia. Semua karya yang mengagumkan itu bersumber pada sebuah prinsip pendidikan yang membebaskan anak untuk mempelajari apa yang dia suka, sambil tetap mendampingi dan mendukung sebisa mungkin.</p>
<p>Mengelola internet sendiri</p>
<p>Salah satu perangkat yang berperan penting dalam<br />
pelaksanaan pendidikan alternatif QT adalah akses internet penuh 24 jam. Semua siswa &#8216;dibiarkan&#8217; mandiri belajar, salah satunya dengan panduan “Om” Google. Akses internet memang ibarat samudra luas tanpa batas yang berisi segala hal, baik yang positif maupun negatif. Di QT, semua siswa bebas mengakses internet, tentunya tetap dengan aturan tertentu. Sebab kebebasan yang bertanggungjawab adalah prinsipnya.</p>
<p>Bagaimana komunitas ini bisa memiliki akses internet 24 jam? Awalnya memang ada seorang pengusaha yang menyediakan internet di komunitas ini. Namun kemudian, komunitas ini memakai jasa internet yang diluncurkan Telkom dan dikelola secara mandiri. Mereka membuat aturan seperti biaya Rp2000 per-jam untuk pemakaiani internet. Dari hasil pengelolaan internet itu mereka mampu membayar tagihan internet plus membayar uang listrik per bulannya.</p>
<p>Dari pengalaman komunitas ini kita bisa belajar bahwa jika anak-anak usia 13-19 tahun yang tinggal di lereng gunung saja bisa mengelola &#8216;sekolah&#8217;nya dengan baik, maka sebenarnya hal yang sama bisa juga dilakukan di tempat lain dan oleh siapa pun. Hanya dibutuhkan komitmen yang kuat dan kemauan untuk mewujudkannya. Terasa berat? Bisa jadi, sebagai awalnya. Namun tidak ada kata tidak mungkin jika kita mau mencobanya.</p>
<p>Aini Firdaus</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=73&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/sekolah-tanpa-sekolah-pendidikan-alternatif-qaryah-thayyibah-di-salatiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membersihkan ginjal kurang dari seribu rupiah</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/membersihkan-ginjal-kurang-dari-seribu-rupiah/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/membersihkan-ginjal-kurang-dari-seribu-rupiah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 03:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[MEMBERSIHKAN GINJAL KURANG DARI SERIBU RUPIAH Tahun-tahun berlalu dalam hidup dan ginjal kita setia menyaring darah dengan menyaring garam, racun dan zat yang tidak diinginkan masuk ke dalam tubuh kita. Dengan berjalannya waktu, garam terakumulasi dan ini sebuah perawatan pembersihan sangat diperlukan. Bagaimana kita bisa melakukannya? Caranya sangat mudah! daun seledri Pertama, ambil seikat daun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=71&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>MEMBERSIHKAN GINJAL KURANG DARI SERIBU RUPIAH</strong></p>
<p>Tahun-tahun berlalu dalam hidup dan ginjal kita setia menyaring darah dengan menyaring garam, racun dan zat yang tidak diinginkan masuk ke dalam tubuh kita. Dengan berjalannya waktu, garam terakumulasi dan ini sebuah perawatan pembersihan sangat diperlukan. Bagaimana kita bisa melakukannya?</p>
<p>Caranya sangat mudah!</p>
<p><a href="http://doli08.files.wordpress.com/2010/06/att70018.jpg"><img src="http://doli08.files.wordpress.com/2010/06/att70018.jpg?w=207&#038;h=136" alt="" title="att70018" width="207" height="136" class="alignnone size-medium wp-image-72" /></a></p>
<p><em>daun seledri</em></p>
<p>Pertama, ambil seikat daun seledri (parsley/malli leaves/kothimbir/ dhaniya) dan cuci sampai bersih.</p>
<p>Kemudian potong kecil-kecil dan masukkan ke dalam panci berisi air. Rebus selama sepuluh menit dan dinginkan. Kemudian saring, masukkan ke dalam botol yang bersih dan masukkan ke dalam kulkas.</p>
<p>Minum satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat bahwa semua garam dan racun yang menumpuk akan keluar melalui air seni. Anda juga akan merasakan sebuah perbedaan dalam tubuh yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya.</p>
<p>Daun seledri dikenal sebagai bahan pembersih yang terbaik untuk ginjal dan ini adalah sebuah cara yang alami!</p>
<p>__._,_.___</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/71/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/71/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=71&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/18/membersihkan-ginjal-kurang-dari-seribu-rupiah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://doli08.files.wordpress.com/2010/06/att70018.jpg?w=207" medium="image">
			<media:title type="html">att70018</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Health reform in US: Whom to Cover versus What to Cover</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/health-reform-in-us-whom-to-cover-versus-what-to-cover/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/health-reform-in-us-whom-to-cover-versus-what-to-cover/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:43:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/health-reform-in-us-whom-to-cover-versus-what-to-cover/</guid>
		<description><![CDATA[Uncomfortable Arithmetic — Whom to Cover versus What to Cover Posted by NEJM • December 16th, 2009 • Printer-friendly Katherine Baicker, Ph.D., and Amitabh Chandra, Ph.D. Much of the current debate about expanding health insurance coverage avoids addressing an uncomfortable trade-off: with a limited budget, making benefits more generous means being able to cover fewer [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=57&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Uncomfortable Arithmetic — Whom to Cover versus What to Cover Posted by NEJM • December 16th, 2009 • Printer-friendly</p>
<p>Katherine Baicker, Ph.D., and Amitabh Chandra, Ph.D.</p>
<p>Much of the current debate about expanding health insurance coverage avoids addressing an uncomfortable trade-off: with a limited budget, making benefits more generous means being able to cover fewer people. Moreover, designing insurance benefits that are limited to coverage of higher-value care but are extended to more people will generate greater improvements in health than providing unlimited care for fewer people. Policymakers and patient advocates are reluctant to<br />
acknowledge that in a world of scarce resources it will not be enough to eliminate waste: we will have to make active choices in our public insurance programs between increasing the number of people covered and increasing the generosity of that coverage.<span id="more-57"></span></p>
<p>Table 1 illustrates the most basic of these choices: the more generous the insurance policy, the fewer the people who can be covered with a given budget. It shows the amount that it would cost to cover a certain number of people with policies of a certain level of generosity (as indicated by the per-person premium). We chose these values on the basis of the distribution of premiums for individual coverage in the employer-sponsored health insurance market today, using data for employers with more than 50 workers from the 2008 Medical Expenditure Panel Survey (MEPS) conducted by the Agency for Healthcare Research and Quality.1 The median premium was $4,200, the premium at the 25th percentile was $3,500, and the premium at the 75th percentile was $5,100. This dispersion reflects many factors besides the generosity of policies, including geographic variation and enrollee characteristics (although basing the analysis on premiums paid by larger employers mitigates the effects of these characteristics). One could also think of the less generous policies as reflective of the typical premiums of a decade ago (for example, the 25th-percentile premium in 2008 was similar to the average premium in 2000, which was $3,500 after adjustment for inflation).</p>
<p>Baicker_F1</p>
<p>This analysis demonstrates an obvious trade-off: a fixed budget of $180 billion per year could cover 30 million people with a policy whose annual premium was $6,000, or it could cover more than 50 million people with a $3,500 policy. With a fixed budget, the “cost” of moving from providing a plan at the 25th percentile of generosity to one at the 90th percentile is leaving 20 million people uninsured. Of course, some might say that the health care budget should not be fixed: we should spend as much as it takes to cover everyone. However, this argument neglects the financial reality that with uncapped benefits, health care programs could grow so quickly that there would be no public funds left for anything else, from food to housing to education.</p>
<p>This discussion implicitly assumes that more expensive health plans offer benefits that improve health more, but there is disagreement on this point. Some would argue that more expensive plans provide virtually no advantage over less expensive ones, and that eliminating duplicated tests, unnecessary procedures, and therapies with unproven benefit would be sufficient to stem the growth of health care spending and provide care for the uninsured. But even after such waste is eliminated, we will still be confronted with the same stark choice between using public resources to provide all people with some care and using those resources to provide some people with all care (or using some of those resources for things like education).</p>
<p>Our very real need to decide how generous publicly subsidized insurance policies should be highlights a related trade-off: when dollars are focused on covering higher-value care, they produce greater aggregate health gains than when they are spread across care of mixed value. Evidence suggests that the benefits that are gained from various kinds of health care spending vary widely.</p>
<p>Table 2 presents examples of health care interventions and their associated benefit. Here, too, we have simplified a complex landscape: the effectiveness of all these interventions clearly ranges beyond the categories in which we have placed them, but the examples illustrate the point that dollars can be stretched to produce much greater improvements in health if they are focused on certain uses rather than others. The table shows the reduction in the number of<br />
quality-adjusted life-years (QALYs) gained as we cover services that are less cost-effective: an annual budget of $180 billion can offer a gain of at least 1.8 million QALYs if those resources are devoted exclusively to services that cost less than $100,000 per QALY. But if the threshold is raised to include less effective services so that the average cost per QALY gained is $300,000, the same budget will result in only 600,000 additional QALYs. (Of course, cost-effectiveness should be only one of many criteria used to design public health insurance programs: the purpose of health insurance is to reduce financial uncertainty and increase access in the case of large and uncertain medical expenses.)</p>
<p>Baicker_T2</p>
<p>Although the benefits of successfully targeting limited resources could be dramatic, the mechanisms by which spending might be targeted toward the highest-value uses are complex. One state offers a potential template: in Oregon, a commission that includes both patients and providers ranks treatments according to their<br />
effectiveness, with the goal of having the public insurance program cover only services whose value is above a certain threshold.2 In practice, however, there has been very little limiting of services on the basis of these rankings — a fact that highlights the tremendous political difficulties of making such trade-offs explicit.</p>
<p>Mandating what is covered and what is not isn’t the only approach for increasing the reach of limited public dollars. Competition among private plans for enrollees (who could receive government-subsidized vouchers based on their income and health risks) is another strategy for moving people into plans that offer higher-value care. Lessons from the behavioral economics literature, however, imply that unregulated competition alone is unlikely to result in patients’ choosing the highest-value plans, suggesting that there is a powerful role for more nuanced plan design. All these strategies, however, will involve implicit or explicit trade-offs between the generosity of subsidies and the number of people who are eligible for them, as well as the resources that will be available for other public programs.</p>
<p>Unfortunately, the mere recognition of the existence of trade-offs does not tell us how best to make them. There are no easy solutions in which all people receive all care that might potentially benefit their health. There is only 100% of Gross Domestic Product to go around, whereas we could theoretically spend a virtually unlimited amount of money on health care. As medical technology advances, there will continue to be new treatments that will offer incremental improvements in health at increasingly high costs, and we will have to decide how to allocate scarce resources among treatments and among people. To date, there has been little debate in Congress about the generosity of public benefit packages, except for whether such benefits should cover abortion. But eventually, we will have to engage in the difficult discussions required to choose whom and what our public insurance programs should cover. Some might call this rationing, but the reality is that millions of Americans now have no access to lifesaving medical technologies at the same time that public resources are being devoted to covering less-effective therapies for less-serious conditions. We find that sort of rationing hard to justify.</p>
<p>Financial and other disclosures provided by the authors are available with the full text of this article at NEJM.org.</p>
<p>Source Information</p>
<p>From the Harvard School of Public Health, Boston (K.B.); and the John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Cambridge, MA (A.C.).</p>
<p>This article (10.1056/NEJMp0911074) was published on December 16, 2009, at NEJM.org.</p>
<p>References</p>
<p>1. Agency for Healthcare Research and Quality, Center for<br />
Financing, Access and Cost Trends. 2008 Medical Expenditure Panel Survey — insurance component. Rockville, MD: AHRQ. (Accessed December<br />
7, 2009, at <a href="http://www.meps.ahrq.gov/mepsweb/data_stats/summ_tables/insr/national/series_1/2008/tig1.pdf.">http://www.meps.ahrq.gov/mepsweb/data_stats/summ_tables/insr/national/series_1/2008/tig1.pdf.</a>) 2. Bodenheimer T. The Oregon Health Plan — lessons for the nation. N Engl J Med 1997;337:651-5, 720. [Free Full Text]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=57&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/health-reform-in-us-whom-to-cover-versus-what-to-cover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Free Trade vs Fair Trade dalam Kerangka CAFTA</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/free-trade-vs-fair-trade-dalam-kerangka-cafta/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/free-trade-vs-fair-trade-dalam-kerangka-cafta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:40:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/free-trade-vs-fair-trade-dalam-kerangka-cafta/</guid>
		<description><![CDATA[Free Trade vs Fair Trade dalam Kerangka CAFTA Jumat, 26 Maret 2010 00:00 WIB 0 Komentar 0 0 Buzz up! Kontroversi tentang keikutsertaan RI dalam CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area) terus berlangsung. Berbagai pihak menyatakan bahwa keikutsertaan RI dalam CAFTA merugikan bisnis dan industri di dalam negeri. Namun, sebagian menyatakan akan berdampak positif karena persaingan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=56&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Free Trade vs Fair Trade dalam Kerangka CAFTA<br />
Jumat, 26 Maret 2010 00:00 WIB 0 Komentar 0 0</p>
<p>Buzz up!<br />
Kontroversi tentang keikutsertaan RI dalam CAFTA (China-ASEAN Free Trade Area) terus berlangsung. Berbagai pihak menyatakan bahwa keikutsertaan RI dalam CAFTA merugikan bisnis dan industri di dalam negeri. Namun, sebagian menyatakan akan berdampak positif karena persaingan akan mendorong efisiensi, bertambahnya potensi pasar, dsb. Menanggapi hal ini, Departemen Perindustrian via Menteri Perindustrian RI mengajukan surat notifikasi ulang untuk meminta perpanjangan tenggang waktu pelaksanaan atau bahkan penundaan.</p>
<p>Jacob Viner pada 1950 mengajukan ide pembentukan kawasan perdagangan bebas (free trade area). Ide tersebut sebenarnya meneruskan ide Adam Smith yang sejak abad ke-17 mencanangkan konsep perdagangan bebas, perusahaan bebas, dan pergerakan bebas sumber daya manusia, barang dan jasa. Ide Viner diwujudkan dalam pembentukan kawasan perdagangan bebas Kawasan Ekonomi Eropa (European Economic Community/EEC) pada 1957. Kawasan perdagangan bebas ini ditingkatkan menjadi integrasi ekonomi pada 2000. Nama EEC kemudian berubah menjadi Uni Eropa (European Union). Langkah integrasi dilakukan termasuk dengan melebur mata uang 12 negara Eropa menjadi satu mata uang, yakni euro. Keberhasilan Uni Eropa tersebut memberikan inspirasi munculnya berbagai kawasan perdagangan yang lain contohnya AFTA di ASEAN, NAFTA di Amerika Utara, MERCOSUR di Amerika Latin, dan APEC di Asia Pasifik.</p>
<p><span id="more-56"></span></p>
<p>Free trade</p>
<p>Konsep perdagangan bebas dilakukan dengan melakukan berbagai tindakan, antara lain, menghapuskan tarif bea masuk, kuota, dan berbagai diskriminasi ekspor/impor dengan tujuan untuk menciptakan ekspansi pasar/kreasi perdagangan (trade creation). Wujudnya ialah peningkatan ekspor, meningkatnya volume perdagangan, meningkatnya skala ekonomi, dan usaha perusahaan. Dalam praktik, tidak dapat dihindari adanya pihak-pihak yang akan terpinggirkan karena kalah dalam kompetisi dengan pihak-pihak asing yang mempunyai skala usaha lebih besar, sehingga pihak-pihak asing dapat beroperasi dengan lebih efisien. Sebagai contoh, Uni Eropa tetap sepakat untuk menangguhkan<br />
liberalisasi sektor pertanian dalam penerapan perdagangan bebasnya sampai 25 tahun ke depan. Alangkah ironisnya bilamana CAFTA tetap membiarkan sektor pertanian untuk bersaing berhadap-hadapan (head to head) dengan kompetitor dari luar negeri. Contoh yang sudah kita alami ialah serbuan buah-buahan impor dari China terus meningkat. Misalnya data dari Kementerian Pertanian (2009), impor buah-buahan tahun 2007 sebesar US$449,1 juta, 2008 US$474,1 juta, sedangkan khusus pada bulan Desember 2009 impor buah-buahan dari China meningkat 1,5 kali jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni mencapai US$42,45 juta. Siapa lagi yang menjadi korban dalam kompetisi ini kalau bukan para petani kecil dari RI. Hal ini menggambarkan betapa rentannya nasib para usahawan kecil dan para petani kecil di negara kita. Keberadaan perdagangan bebas (free trade) memunculkan keprihatinan dan ide agar perdagangan bebas juga disertai dengan perdagangan yang adil (fair trade). Pengajuan renegosiasi patut didukung sebagai upaya mewujudkan fair trade dalam kesepakatan free trade.</p>
<p>Fair trade</p>
<p>Fair trade merupakan respons atas berbagai kesepakatan perdagangan bebas di berbagai kawasan yang menimbulkan berbagai ekses pada masalah etika, petani/pengusaha kecil, keberlanjutan pembangunan, kelestarian lingkungan hidup, perburuhan, kesehatan dan keamanan pangan, dan sebagainya. Torsten (2006), misalnya, berpendapat bahwa semangat fair trade seharusnya lebih dikedepankan terlebih dahulu dalam free trade, tidak hanya semangat untuk menumpuk kapital dan motif ekonomi semata-mata.</p>
<p>Pada dasarnya ada berbagai hal yang harus dikedepankan dalam fair trade, yakni etika bisnis, tanggung jawab sosial perusahaan, perlindungan terhadap para petani kecil, pelarangan terhadap pekerja anak-anak, keberlanjutan pembangunan dan lingkungan hidup, strategi penetapan harga yang adil dan wajar, penjaminan terhadap keamanan lingkungan kerja, penjaminan pada keamanan dan kesehatan produk dan pangan, peningkatan terhadap kesetaraan antarpihak yang bersepakat dalam free trade, promosi terhadap kesetaraan gender, penciptaan kepedulian dan kekritisan konsumen, dan sebagainya. Gerakan ini semula dikatakan sebagai suatu utopia atau mimpi, mempertimbangkan bahwa kecenderungan manusia begitu rakus pada uang/kapital sehingga cenderung mengabaikan etika dan moralitas, atau paham antroposentris, yaitu tindakan apa pun dihalalkan asal bermanfaat bagi<br />
manusia/perusahaan. Misalnya melakukan korupsi/suap, mengeksploitasi kelestarian lingkungan hidup, buruh, dan sebagainya.</p>
<p>CAFTA</p>
<p>Pengajuan usulan renegosiasi konsep free trade dengan memasukkan aspek-aspek fair trade mendesak untuk dilaksanakan melalui lobi-lobi dan memperkuat jejaring dengan sesama anggota ASEAN yang dapat diklasifikasikan sebagai negara-negara yang GNP-nya berada di bawah level US$1.300 seperti Indonesia, Filipina, Vietnam, Laos, dan Kamboja. Kita patut belajar dari pengalaman rencana FTA antara ASEAN/AFTA dan Australia dan Selandia Baru. Inisiatif FTA tersebut utamanya datang dari negara-negara yang relatif kuat ekonominya antara lain Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand. Pada Desember 2008 pemerintah RI dengan gigih meminta penangguhan FTA tersebut dan negosiasi ini berhasil.</p>
<p>Berbeda dengan kasus FTA antara ASEAN/AFTA dengan Australia dan Selandia Baru, CAFTA sudah telanjur disetujui dan diratifikasi mulai awal tahun ini. Oleh karena itu, perlu ditekankan dan diperkuat berbagai klausul dalam kesepakatan WTO (World Trade Organization) yang menjamin adanya fair trade karena klausul tersebut bersifat<br />
mandatori/wajib bagi para anggota CAFTA (sebagian besar anggota CAFTA ialah juga anggota WTO). Hal ini penting untuk menghindari berbagai ekses dalam CAFTA misalnya masalah dumping, kesehatan, dan keamanan produk pangan, hak-hak atas kekayaan intelektual, keamanan<br />
produk-produk pertanian, perkebunan dan hortikultura, adanya subsidi terselubung, dan sebagainya.</p>
<p>Kita tidak menutup mata terhadap banyak masalah keamanan produk mainan anak-anak asal China yang berbahaya (Asosiasi Produsen Mainan Anak-anak RI), penggunaan formalin pada produk makanan/susu mengandung melamin asal China yang pernah dilarang oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI, penggunaan bahan-bahan berbahaya pada piring/mangkuk, dan produk-produk toiletries (pasta gigi) yang diimpor oleh RI. Sampai saat ini pun pemerintah China disibukkan untuk menertibkan di negaranya sendiri, berbagai produk pangan dan susu untuk bayi yang mengandung melamin dsb.</p>
<p>WTO sebenarnya sudah mewadahi sebagian kepentingan fair trade sehingga melarang misalnya pelanggaran pada aspek kesehatan dan keamanan produk pertanian, termasuk pemberian subsidi terselubung ada di Artikel XX, perlindungan pada bisnis jasa-jasa diatur dalam Artikel XIX, Hak-Hak Atas Kekayaan Intelektual diatur dalam Artikel 23 ayat 4, kompetisi yang adil diatur dalam paragraf 24, pemberian subsidi terselubung untuk meningkatkan daya saing diatur dalam artikel VI, diskriminasi produk ekspor/impor diatur dalam paragraf 31 ayat I, masalah dumping diatur dalam paragraf 31, hal-hal khusus lain yang belum tercantum dalam berbagai pasal, artikel dan paragraf diatur dalam paragraf 442, e-commerce pun juga disepakati untuk diatur pada tanggal 20 Mei 2008. Apabila ada berbagai kasus terkait dengan pelanggaran terhadap ketentuan WTO tersebut RI bisa mengajukan gugatan kepada WTO Dispute Settlement atau penyelesaian sengketa dalam WTO, untuk seterusnya sidang panel WTO akan dilakukan melalui berbagai tahap sebelumnya yakni konsultasi, penelitian panel, review para ahli, dan pelaporan. Sanksi akan dijatuhkan bilamana terbukti pihak-pihak yang digugat terbukti melanggar ketentuan yang telah disepakati, sanksi tersebut di antaranya adalah denda sampai pada yang terparah pihak yang digugat dikucilkan dari perdagangan internasional. Oleh karena itu, diperlukan lembaga untuk secara khusus bertugas mengkaji, mengawasi, dan menerima laporan dugaan adanya praktik-praktik dumping, pelanggaran masalah kesehatan dan keamanan, berbagai unfair practices/praktik-praktik ketidakadilan dsb agar di republik tercinta ini tidak menjadi tempat bagi produk-produk sampah/buangan/tidak aman bagi negara asing (country of junkyard).</p>
<p>Oleh Vincent Didiek WA Guru Besar International Marketing di Fakultas Ekonomi Unika Soegijapranata Semarang</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=56&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/free-trade-vs-fair-trade-dalam-kerangka-cafta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah pemeriksa pajak melawan korupsi</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kisah-pemeriksa-pajak-melawan-korupsi/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kisah-pemeriksa-pajak-melawan-korupsi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kisah-pemeriksa-pajak-melawan-korupsi/</guid>
		<description><![CDATA[Kisah pemeriksa pajak melawan korupsi Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005) Anugrah Roby Syahputra Alumni Prodip STAN Medan Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=55&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kisah pemeriksa pajak melawan korupsi</p>
<p>Sumber: (Majalah Tarbawi Edisi 111 Th. 7/Jumadal Ula 1426 H/23 Juni 2005) Anugrah Roby Syahputra<br />
Alumni Prodip STAN Medan</p>
<p>Sebagai pegawai Departemen Keuangan, saya tidak gelisah dan tidak kalangkabut akibat prinsip hidup korupsi. Ketika misalnya, tim Inspektorat Jenderal datang, BPKP datang, BPK datang, teman-teman di kantor gelisah dan belingsatan, kami tenang saja. Jadi sebenarnya hidup tanpa korupsi itu menyenangkan sekali. Hidup tidak korupsi itu sebenarnya lebih menyenangkan. Meski orang melihat kita sepertinya sengsara, tapi sebetulnya lebih menyenangkan. Keadaan itu paling tidak yang saya rasakan langsung.</p>
<p>Saya Arif Sarjono, lahir di Jawa Timur tahun 1970, sampai dengan SMA di Mojokerto, kemudian kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan selesai pada 1992. Pada 17 Oktober 1992 saya menikah dan kemudian saya ditugaskan di Medan. Saya ketika itu mungkin termasuk generasi pertama yang mencoba menghilangkan dan melawan arus korupsi yang sudah sangat lazim. Waktu itu pertentangan memang sangat keras. Saya punya prinsip satu saja, karena takut pada Allah, jangan sampai ada rezeki haram menjadi daging dalam diri dan keturunan. Itu saja yang selalu ada dalam hati saya.<span id="more-55"></span></p>
<p>Kalau ingat prinsip itu, saya selalu menegaskan lagi untuk mengambil jarak yang jelas dan tidak menikmati sedikit pun harta yang haram. Syukurlah, prinsip itu bisa didukung keluarga, karena isteri juga aktif dalam pengajian keislaman. Sejak awal ketika menikah, saya sampaikan kepada isteri bahwa saya pegawai negeri di Departemen Keuangan, meski imej banyak orang, pegawai Departemen Keuangan kaya, tapi sebenarnya tidak begitu. Gaji saya hanya sekian, kalau mau diajak hidup sederhana dan tanpa korupsi, ayo. Kalau tidak mau, ya sudah tidak jadi.</p>
<p>Dari awal saya sudah berusaha menanamkan komitmen kami seperti itu. Saya juga sering ingatkan kepada isteri, bahwa kalau kita konsisten dengan jalan yang kita pilih ini, pada saat kita membutuhkan maka Allah akan selesaikan kebutuhan itu. Jadi yg penting usaha dan konsistensi kita. Saya juga suka mengulang beberapa kejadian yg kami alami selama menjalankan prinsip hidup seperti ini kepada istri. Bahwa yg penting bagi kita adalah cukup dan berkahnya, bahwa kita bisa menjalani hidup layak. Bukan berlebih seperti memiliki rumah dan mobil mewah.</p>
<p>Menjalani prinsip seperti ini jelas banyak ujiannya. Di mata keluarga besar misalnya, orangtua saya juga sebenarnya mengikuti logika umum bahwa orang pajak pasti kaya. Sehingga mereka biasa meminta kami membantu adik-adik dan keluarga. Tapi kami berusaha menjelaskan bahwa kondisi kami berbeda dengan imej dan anggapan orang. Proses memberi pemahaman seperti ini pada keluarga sulit dan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sampai akhirnya pernah mereka berkunjung ke rumah saya di Medan, saat itulah mereka baru mengetahui dan melihat bagaimana kondisi keluarga saya, barulah perlahan-lahan mereka bisa memahami.</p>
<p>Jabatan saya sampai sekarang adalah petugas verifikasi lapangan atau pemeriksa pajak. Kalau dibandingkan teman-teman seangkatan sebenarnya karir saya bisa dikatakan terhambat antara empat sampai lima tahun. Seharusnya paling tidak sudah menjabat Kepala Seksi, Eselon IV. Tapi sekarang baru Eselon V. Apalagi dahulu di masa Orde Baru, penentangan untuk tidak menerima uang korupsi sama saja dengan karir terhambat. Karena saya dianggap tidak cocok dengan atasan, maka kondite saya di mata mereka buruk. Terutama poin ketaatannya, dianggap tidak baik dan jatuh.<br />
Banyak pelajaran yang bisa saya petik dari semua pengalaman itu. Antara lain, orang-orang yang berbuat jahat akan selalu berusaha mencari kawan apa pun caranya. Cara keras, pelan, lewat bujukan atau apa pun akan mereka lakukan agar mereka mendapat dukungan. Mereka pada dasarnya tidak ingin ada orang yang bersih. Mereka tidak ingin ada orang yang tidak seperti mereka.</p>
<p>Pengalaman di kantor yang paling berkesan ketika mereka menggunakan cara paling halus, pura-pura berteman dan bersahabat. Tapi belakangan, setelah sekian tahun barulah ketahuan, kita sudah dikhianati. Cara seperti in seperti sudah direkayasa. Misalnya, pegawai-pegawai baru didekati. Mereka dikenalkan dengan gaya hidup dan cara bekerja pegawai lama, bahwa seperti inilah gaya hidup pegawai Departemen Keuangan. Bila tidak berhasil, mereka akan pakai cara lain lagi, begitu seterusnya. Pola-pola apa saja dipakai, sampai mereka bisa merangkul orang itu menjadi teman.</p>
<p>Saya pernah punya atasan. Dari awal ketika memperkenalkan diri, dia sangat simpatik di mata saya. Dia juga satu-satunya atasan yang mau bermain ke rumah bawahan. Saya dengan atasan itu kemudian menjadi seperti sahabat, bahkan seperti keluarga sendiri. Di akhir pekan, kami biasa memancing sama-sama atau jalan-jalan bersama keluarga. Dan ketika pulang, dia biasa juga menitipkan uang dalam amplop pada anak-anak saya. Saya sendiri menganggap pemberian itu hanya hadiah saja, berapalah hadiah yang diberikan kepada anak-anak. Tidak terlalau saya perhatikan. Apalagi dalam proses pertemanan itu kami sedikit saja berbicara tentang pekerjaan. Dan dia juga sering datang menjemput ke rumah, mangajak mancing atau ke toko buku sambil membawa anak-anak.</p>
<p>Hingga satu saat saya mendapat surat perintah pemeriksaan sebuah perusahaan besar. Dari hasil pemeriksaan itu saya menemukan<br />
penyimpangan sangat besar dan luar biasa jumlahnya. Pada waktu itu, atasan melakukan pendekatan pada saya dengan cara paling halus. Dia mengatakan, kalau semua penyimpangan ini kita ungkapkan, maka perusahaan itu bangkrut dan banyak pegawai yang di-PHK. Karena itu, dia menganggap efek pembuktian penyimpangan itu justru menyebabkan masyarakat rugi. Sementara dari sisi pandang saya, betapa tidak adilnyakalau tidak mengungkap temuan itu. Karena sebelumnya ada yang melakukan penyimpangan dan kami ungkapkan. Berarti ada pembedaan. Jadwal penagihannya pun sama seperti perusahaan lain.</p>
<p>Karena dirasa sulit mempengaruhi sikap saya, kemudian dia memakai logika lain lagi. Apakah tidak sebaiknya kalau temuan itu diturunkan dan dirundingkan dengan klien, agar bisa membayar pajak dan negara untung, karena ada uang yang masuk negara. Logika seperti ini juga tidak bisa saya terima. Waktu itu, saya satu-satunyaanggota tim yang menolak dan meminta agar temuan itu tetap diungkap apa adanya. Meski saya juga sadar, kalau saya tidak menandatangani hasil laporan itu pun, laporan itu akan tetap sah. Tapi saya merasa teman-teman itu sangat ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Mereka ingin semua sepakat dan sama seperti mereka. Paling tidak menerima. Ketika sudah mentok semuanya, saya dipanggil oleh atasan dan disidang di depan kepala kantor. Dan ini yang amat berkesan sampai sekarang, bahwa upaya mereka untuk menjadikan orang lain tidak bersih memang direncanakan.</p>
<p>Di forum itu, secara terang-terangan atasan yang sudah lama<br />
bersahabatdan seperti keluarga sendiri dengan saya itu mengatakan, “Sudahlah, Dik Arif tidak usah munafik.” Saya katakan, “Tidak munafik bagaimana Pak? Selama ini saya insya Allah konsisten untuk tidak melakukan korupsi.” Kemudian ia sampaikan terus terang bahwa uang yang selama kurang lebih dua tahun ia berikan pada anak saya adalah uang dari klien. Ketika mendengar itu, saya sangat terpukul, apalagi merasakan sahabat itu ternyata berkhianat. Karena terus terang saya belum pernah mempunyai teman sangat dekat seperti itu, kacuali yang memang sudah sama-sama punya prinsip untuk menolak uang suap.</p>
<p>Bukan karena saya tidak mau bergaul, tapi karena kami tahu persis bahwa mereka perlahan-lahan menggiring ke arah yang mereka mau. Ketika merasa terpukul dan tidak bisa membalas dengan kata-kata apa pun, saya pulang. Saya menangis dan menceritakan masalah itu pada isteri saya di rumah. Ketika mendengar cerita saya itu, isteri langsung sujud syukur.<br />
Ia lalu mengatakan, “Alhamdulillah. Selama ini uang itu tidak pernah saya pakai,” katanya. Ternyata di luar pengatahuan saya,<br />
alhamdulillah, amplop-amplop itu tidak digunakan sedikit pun oleh isteri saya untuk keperluan apa pun. Jadi amplop-amplop itu disimpan di sebuah tempat, meski ia sama sekali tidak tahu apa status uang itu. Amplop-amplop itu semuanya masih utuh. Termasuk tulisannya masih utuh, tidak ada yang dibuka. Jumlahnya berapa saya juga tidak tahu. Yang jelas, bukan lagi puluhan juta. Karena sudah masuk hitungan dua tahun dan diberikan hampir setiap pekan.</p>
<p>Saya menjadi bersemangat kembali. Saya ambil semua amplop itu dan saya bawa ke kantor. Saya minta bertemu dengan kepala kantor dan kepala seksi.<br />
Dalam forum itu, saya lempar semua amplop itu di hadapan atasan saya hingga bertaburan di lantai. Saya katakan, “Makan uang itu, satu rupiah pun saya tidak pernah gunakan uang itu. Mulai saat ini, saya tidak pernah percaya satu pun perkataan kalian.” Mereka tidak bisa bicara apa pun karena fakta obyektif, saya tidak pernah memakai uang yang mereka tuduhkan. Tapi esok harinya, saya langsung dimutasi antar seksi. Awalnya saya diauditor, lantas saya diletakkan di arsip, meski tetap menjadi petugas lapangan pemeriksa pajak. Itu berjalan sampai sekarang. Ketika melawan arus yang kuat, tentu saja da saat<br />
tarik-menarik dalam hati dan konflik batin. Apalagi keluarga saya hidup dalam kondisi terbatas. Tapi alhamdulillah, sampai sekarang saya tidak tergoda untuk menggunakan uang yang tidak jelas. Ada pengalaman lain yang masih saya ingat sampai sekarang. Ketika saya mengalami kondisi yang begitu mendesak. Misalnya, ketika anak kedua lahir. Saat itu persis ketika saya membayar kontrak rumah dan tabungan saya habis. Sampai detik-detik terakhir harus membayar uang rumah sakit untuk membawa isteri dan bayi kami ke rumah, saya tidak punya uang serupiah pun.</p>
<p>Saya mau bcara dengan pihak rumah sakit dan terus terang bahwa insya Allah pekan depan akan saya bayar, tapi saya tidak bisa ngomong juga. Akhirnya saya keluar sebentar ke masjid untuk sholat dhuha. Begitu pulang dari sholat dhuha, tiba-tiba saja saya ketemu teman lama di rumah sakit itu. Sebelumnya kami lama sekali tidak pernah jumpa. Dia dapat cerita dari teman bahwa isteri saya melahirkan, maka dia sempatkan datang ke rumah sakit. Wallahu a’lam apakah dia sudah diceritakan kondisi saya atau bagaimana, tetapi ketika ingin menyampaikan kondisi saya pada pihak rumah sakit, saya malah ditunjukkan kwitansi seluruh biaya perawatan isteri yang sudah lunas. Alhamdulillah.</p>
<p>Ada lagi peristiwa hampir sama, ketika anak saya operasi mata karena ada lipoma yang harus diangkat. Awalnya, saya pakai jasa askes. Tapi karena pelayanan pengguna Askes tampaknya apa adanya, dan saya kasihan karena anak saya baru berumur empat tahun, saya tidak pakai Askes lagi. Saya ke Rumah Sakit yang agak bagus sehingga pelayanannya juga agak bagus. Itu saya lakukan sambil tetap berfikir, nanti uangnya pinjam dari mana?<br />
Ketika anak harus pulang, saya belum juga punya uang. Dan saya paling susah sekali menyampaikan ingin pinjam uang. Alhamdulillah, ternyata Allah cukupkan kebutuhan itu pada detik terakhir. Ketika sedang membereskan pakaian di rumah sakit, tiba-tiba Allah pertemukan saya dengan seseorang yang sudah lama tidak bertemu. Ia bertanya bagaimana kabar, dan saya ceritakan anak saya sedang dioperasi. Dia katakan, “Kenapa tidak bilang-bilang?” Saya sampaikan karena tidak sempat saja. Setelah teman itu pulang, ketika ingin menyampaikan penundaan pembayaran, ternyata kwitansinya juga sudah dilunasi oleh teman itu. Alhamdulillah.</p>
<p>Saya berusaha tidak terjatuh ke dalam korupsi, meski masih ada tekanan keluarga besar, di luar keluarga inti saya. Karena ada teman yang tadinya baik tidak memakan korupsi, tapi jatuh karena tekanan keluarga. Keluarganya minta bantuan, karena takut dibilang pelit, mereka terpaksa pinjam sana sini. Ketika harus bayar, akhirnya mereka terjerat korupsi juga. Karena banyak yang seperti itu, dan saya tidak mau terjebak begitu, saya berusaha dari awal tidak demikian. Saya berusaha cari usaha lain, dengan mengajar dan sebagainya. Isteri saya juga bekerja sebagai guru.</p>
<p>Di lingkungan kerja, pendekatan yang saya lakukan biasanya lebih banyak dengan bercanda. Sedangkan pendekatan serius, sebenarnya mereka sudah puas dengan pendekatan itu, tapi tidak berubah. Dengan pendekatan bercanda, misalnya ketika datang tim pemeriksa dari BPK, BPKP, atau Irjen. Mereka gelisah sana-sini kumpulkan uang untuk menyuap pemeriksa. Jadi mereka dapat suap lalu menyuap lagi. Seperti rantai makanan. Siapa memakan siapa.</p>
<p>Uang yang mereka kumpulkan juga habis untuk dipakai menyuap lagi. Mereka selalu takut ini takut itu. Paling sering saya hanya mengatakan dengan bercanda, “Uang setan ya dimakan hantu.”<br />
Dari percakapan seperti itu ada juga yang mulai berubah, kemudian berdialog dan akhirnya berhenti sama sekali. Harta mereka jual dan diberikan kepada masyarakat. Tapi yang seperti itu tidak banyak. Sedikit sekali orang yang bisa merubah gaya hidup yang semula mewah lalu tiba-tiba miskin. Itu sulit sekali.</p>
<p>Ada juga diantara teman-teman yang beranggapan, dirinya tidak pernah memeras dan tidak memakan uang korupsi secara langsung. Tapi hanya menerima uang dari atasan. Mereka beralasan toh tidak meminta dan atasan itu hanya memberi. Mereka mengatakan tidak perlu bertanya uang itu dari mana. Padahal sebenarnya, dari ukuran gaji kami tahu persis bahwa atasan kami tidak akan pernah bisa memberikan uang sebesar itu.</p>
<p>Atasan yang memberikan itu berlapis-lapis. Kalau atasan langsung biasanya memberi uang hari Jum’at atau akhir pekan. Istilahnya kurang lebih uang Jum’atan. Atasan yang berikutnya lagi pada momen berikutnya memberi juga.<br />
Kalau atasan yang lebih tinggi lagi biasanya memberi menjelang lebaran dan sebagainya. Kalau dihitung-hitung sebenarnya lebih besar uang dari atasan dibanding gaji bulanan. Orang-orang yang menerima uang seperti ini yang sulit berubah. Mereka termasuk rajin sholat, puasa sunnah dan membaca Al-Qur’an. Tetapi mereka sulit berubah. Ternyata hidup dengan korupsi memang membuat sengsara. Di antara teman-teman yang korupsi, ada juga yang akhirnya dipecat, ada yang melarikan diri karena dikejar-kejar polisi, ada yang isterinya selingkuh dan lain-lain. Meski secara ekonomi mereka sangat mapan, bukan hanya sekadar mapan.</p>
<p>Yang sangat dramatis, saya ingat teman sebangku saya saat kuliah di STAN. Awalnya dia sama-sama ikut kajian keislaman di kampus. Tapi ketika keluarganya mulai sering minta bantuan, adiknya kuliah, pengobatan keluarga dan lainnya, dia tidak bisa berterus terang tidak punya uang. Akhirnya ia mencoba hutang sana-sini. Dia pun terjebak dan merasa sudah terlanjur jatuh, akhirnya dia betul-betul sama dengan<br />
teman-teman di kantor. Bahkan sampai sholat ditinggalkan. Terakhir, dia ditangkap polisi ketika sedang mengkonsumsi narkoba. Isterinya pun selingkuh. Teman itu sekarang dipecat dan dipenjara.</p>
<p>Saya berharap akan makin banyak orang yang melakukan jihad untuk hidup yang bersih. Kita harus bisa menjadi pelopor dan teladan di mana saja. Kiatnya hanya satu, terus menerus menumbuhkan rasa takutmenggunakan dan memakan uang haram. Jangan sampai daging kita ini tumbuh dari hasil rejeki yang haram. Saya berharap, mudah-mudahan Allah tetap memberikan pada kami keistiqomahan (matanya berkaca-kaca).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=55&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kisah-pemeriksa-pajak-melawan-korupsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Biaya Pendidikan Murah Berkat Kaya Inovasi</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/biaya-pendidikan-murah-berkat-kaya-inovasi/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/biaya-pendidikan-murah-berkat-kaya-inovasi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:39:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/biaya-pendidikan-murah-berkat-kaya-inovasi/</guid>
		<description><![CDATA[MI/ROMMY PUJIANTO MENEMUKAN SMK Wikrama Bogor bisa mencemaskan hati jika Anda tidak kuat niat. Meski tidak jauh dari pintu tol Ciawi Bogor, letak SMK itu bersembunyi di perkampungan. Hanya ada satu papan penunjuk di mulut jalan kecil. Setelah itu, Anda harus menelusuri jalan kecil berkelok yang diapit tanah kosong, rumah penduduk dan sungai. Jalan pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=54&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>MI/ROMMY PUJIANTO<br />
MENEMUKAN SMK Wikrama Bogor bisa mencemaskan hati jika Anda tidak kuat niat. Meski tidak jauh dari pintu tol Ciawi Bogor, letak SMK itu bersembunyi di perkampungan. Hanya ada satu papan penunjuk di mulut jalan kecil. Setelah itu, Anda harus menelusuri jalan kecil berkelok yang diapit tanah kosong, rumah penduduk dan sungai. Jalan pun hanya pas untuk satu mobil.</p>
<p>&#8221;Selamat datang. Pasti tadi sempat enggak pede (percaya diri) kalau ada sekolah di sini,&#8221; ujar Kepala SMK Wikrama Bogor Itasia Dina Sulvianti ramah, Kamis (8/4).</p>
<p>Menurutnya, hampir semua tamu SMK yang baru pertama kali berkunjung sering deg-degan, khawatir keliru jalan. Memang, sekolah yang berdiri di atas lahan sekitar 2.900 meter itu sering dikunjungi untuk studi banding. Sampai tahun ini, sudah mencapai sekitar 16 ribu kunjungan. Para tamu penasaran, bagaimana pendidikan diaplikasikan di sekolah itu sehingga bisa mencuatkan potensi siswa.<span id="more-54"></span></p>
<p>&#8221;Potensi siswa bisa terasah jika dibesarkan dalam lingkungan positif. Jadi guru-guru di sini anti mengatakan hal negatif kepada siswa. Kami juga menerapkan kedisiplinan tanpa kekerasan,&#8221; kata Itasia yang akrab dipanggil Ita itu.</p>
<p>Bagi ibu empat anak tersebut, pada dasarnya disiplin dibangun melalui keteladanan. &#8221;Jadi guru itu harus telaten, enggak boleh putus asa. Harus dicontohkan dan konsisten,&#8221; katanya.</p>
<p>Karena itu, Anda tidak akan menemui petugas kebersihan di sana. Semua warga sekolah mengambil peran tersebut. Ada jadwal piket yang tertulis, bahkan di pintu WC siswa putra. Keberadaan petugas kebersihan, kata Ita, justru membuat siswa tidak peka dengan kebersihan dan kenyamanan lingkungan.</p>
<p>Selain kedisiplinan, jiwa kewirausahaan juga ditanam dalam-dalam. Ada kantin yang benar-benar beroperasi dari siswa untuk siswa. &#8221;Jadi ada jadwal jaga kantin. Mereka juga yang menyediakan dagangan,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Mitra bisnis<br />
Tahun ini, ada 915 siswa dari berbagai daerah bersekolah di tiga jurusan SMK Wikrama, yaitu Administrasi Perkantoran, Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), dan Teknik Komputer dan Jaringan<br />
(TKJ). Biaya pendidikan mereka tidak sampai Rp200 ribu per bulan untuk mendapatkan pengajaran, memanfaatkan fasilitas sejumlah lab praktik, perpustakaan yang buka hingga pukul 19.00 WIB, ujian berbasis web hingga fasilitas internet sepanjang hari. &#8221;Di sini, satu kelas bisa menginap di sekolah jika kebetulan ada yang harus mereka selesaikan. Gurunya ikut menginap juga. Bisanya enggak pulang Jumat malam sampai hari Minggu,&#8221; cerita Ita.</p>
<p>Relasi guru dengan siswa di SMK Wikrama sengaja tidak diciptakan dalam bentuk subjek dan objek pengajaran, melainkan kemitraan. &#8221;Misalnya, kami berbisnis data entry untuk siswa jurusan administrasi kantor (sekretaris) karena banyak sekali perusahaan melakukan survei dan salah satunya membutuhkan data entry. Nah, guru bertindak sebagai supervisor,&#8221; jelas istri dokter hewan, Putratama Agus Lelana itu.</p>
<p>Begitu juga siswa-siswa jurusan TKJ yang biasa menerima perbaikan komputer plus pemasangan jaringan hot spot untuk internet. Mereka yang mempelajari RPL juga menghasilkan program-program terkait manajemen pendidikan. &#8221;Biar mereka biasa dengan dunia kerja sesungguhnya. Mereka akan berlatih disiplin, bekerja di bawah tekanan, dikejar target, teliti, hati-hati dan bertanggung jawab,&#8221; terang Ita.</p>
<p>Dengan begitu, siswa, guru dan sekolah sama-sama mendapatkan pemasukan finansial. &#8221;Kalau tidak begitu, biaya SPP bisa mahal hanya untuk operasional,&#8221; kata Ita.</p>
<p>Tidak heran jika kemudian sekolah ini banyak diminati. Tahun lalu, sekitar 800 orang mendaftar. Padahal, kapasitas siswa baru terbatas 300 kursi. &#8221;Kami menerima siapa saja, asal dia memang mau mengubah hidupnya,&#8221; ujar Ita.</p>
<p>Jadi, siswa dipilah bukan berdasarkan peringkat nilai ujian SMP, melainkan wawancara dengan siswa dan orang tua, tes IQ, psikotes, sampai rekam jejak rapor SMP. &#8221;Kami juga memberi kuota 30% per tahun untuk anak-anak bermasalah, termasuk bermasalah ekonominya. Tidak ada anak-anak yang bodoh, mereka hanya mismanagement,&#8221; terang Ita yang kerap menjadi pembicara ke banyak daerah.</p>
<p>Garasi<br />
Sebelum mendirikan dan mengepalai SMK Wikrama, Ita tidak bersentuhan dengan dunia pendidikan SMK. Dia sarjana matematika lulusan Institut Teknologi Bandung tahun 1986. Semasa kuliah, ia aktif di teater bersama Sujiwo Tejo. &#8221;Makanya orang-orang bingung. Kok saya bisa jadi kepala sekolah. Karena dulu pake anting aja cuma satu,&#8221; kenangnya geli.</p>
<p>Kelar sarjana, Ita melanjutkan pendidikan manajemen data dan analisis statistik berbasis komputer di Amerika Serikat selama 16 bulan. Pulang dari Amerika, ia mengandung anak kedua. Ita lantas melanjutkan pendidikan pascasarjana di IPB.</p>
<p>Sembari kuliah, Ita bergabung dengan lembaga kursus komputer yang didirikan temannya. Ita melamar kerja di bagian administrasi. Tugasnya antara lain mengurus pendaftaran siswa. &#8221;Banyak yang mencemooh, ngapain sih punya sertifikat Amerika kok kerja begitu,&#8221; kisahnya.</p>
<p>Namun, Ita bergeming. Dia tekun bekerja sembari mengamati bagaimana lembaga kursus itu beroperasi. Jabatannya naik menjadi kepala litbang sampai wakil direktur. Tahun 1993, perusahaan kolaps. Demi<br />
menyelamatkan karyawan, Ita lantas mengambil alih kepemilikan dengan menyuntikkan modal yang menurutnya tidak seberapa. Jadilah Ita sebagai pemilik dan direktur lembaga kursus tersebut.</p>
<p>Terbukti, langkah taktisnya berhasil. Selanjutnya, banyak peserta kursus yang &#8216;memprovokasi&#8217; agar Ita sekalian saja membuat pendidikan itu menjadi formal. Ita terpancing membuat sebuah sekolah.</p>
<p>Saat itu, SMK masih kalah pamor dibandingkan SMA serta dianggap sekolah &#8216;buangan&#8217;. &#8221;Itu tahun 1996. Saya sering sekali melihat anak SMK nongkrong di jam sekolah. Saya pikir, seharusnya bisa dibuat SMK yang profesional,&#8221; kata Ita.</p>
<p>Karena itu, Ita membulatkan tekad. Dia menyusun kurikulum sendiri yang kini dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Pendidikan dimulai di garasi. Saat itu siswanya<br />
hanya 34 orang.</p>
<p>Tahun 1999, angkatan pertama SMK di garasi itu lulus dengan nilai bagus. &#8221;Angkatan kedua lebih heboh. Ada yang bisa dapat nilai 9 untuk ujian matematika,&#8221; katanya.</p>
<p>Tahun 1998, Ita berniat pindah lokasi dari garasi ke sebuah tempat yang lebih layak. Kontrak kerja sama telah ditandatangani, tetapi kemudian pecah kerusuhan Mei 1998. Akibat kalut, si<br />
empunya lokasi yang peranakan Tionghoa membatalkan kerja sama secara sepihak. Ita kalang kabut. &#8221;Brosur sudah disebar. Semua anak sudah tahu kita akan pindah sekolah awal tahun<br />
ajaran baru,&#8221; ceritanya.</p>
<p>Namun, Ita tak surut. Di depan lokasi, ia melihat sebuah vila. Karena kepepet, ia sewa vila tersebut untuk sekolah sementara. &#8221;Kontraknya 27 juta. Mahal saat itu. Lalu kamar-kamar seukuran 6&#215;8 meter saya jadikan kelas. Ada juga yang belajar di garasi,&#8221; tambahnya.</p>
<p>Tak ayal, siswa dan orang tua sempat protes keras. Mereka merasa ditipu. &#8221;Saya jelaskan apa adanya. Seberat apa pun masalahnya, yang penting kita jujur. Ya sudah, masalah itu reda,&#8221; ujarnya. Sebuah rumah tua dekat vila itu pun ia kontrak juga untuk kelas. Ita menggunakan seng untuk atap. Untuk mengakali udara panas, Ita memasang paralon yang berlubang di atas atap seng. &#8221;Kalau jam 10, saya nyalakan air jadi seperti hujan buatan. Kelas bisa lebih nyaman,&#8221; ujarnya lantas tertawa.</p>
<p>Tahun 2000, Ita baru mulai membangun SMK Wikrama di lokasi sekarang. Kata Ita, ia mencicil untuk membeli tanah yang dijual Rp150 ribu per meter kala itu. &#8221;Enggak ada dana untuk membangun. Tapi saya yakin saja bisa. Kuncinya di sini,&#8221; kata Ita sembari menunjuk kepala.</p>
<p>Suaminya yang juga pelukis lantas melukis bangunan sekolah. &#8221;Setiap saya masuk sekolah darurat, saya melihat lukisan itu. Saya yakin bisa,&#8221; katanya.</p>
<p>Visualisasi yang kuat atas sebuah sekolah baru membuat Ita fokus pada upaya pengumpulan dana untuk membangun. Dia bekerja sama dengan sejumlah orang. Setahun kemudian, sekolah baru itu beroperasi. &#8221;Sampai sekarang sudah empat lantai, malah enggak berhenti-henti,&#8221; katanya lalu menderai tawa.</p>
<p>Dia berencana membuat kebun di atap. &#8216;Calon penghuninya&#8217; ialah tanaman- tanaman hias yang kelak akan disewakan. &#8221;Punya SMK harus inovatif. Karena sebetulnya biaya pendidikan per anak itu memang mahal, jadi harus diakali,&#8221; katanya pasti. (M-2)</p>
<p><a href="http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2010/04/13/3012/10/Biaya-Pendidikan-Murah-Berkat-Kaya-Inovasi">http://www.mediaindonesia.com/mediaperempuan/index.php/read/2010/04/13/3012/10/Biaya-Pendidikan-Murah-Berkat-Kaya-Inovasi</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=54&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/biaya-pendidikan-murah-berkat-kaya-inovasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dua Wanita Misionary Diancam Demi Misi Kristus (Liputan : Tim  Redaksi BAIT)</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/dua-wanita-misionary-diancam-demi-misi-kristus-liputan-tim-redaksi-bait/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/dua-wanita-misionary-diancam-demi-misi-kristus-liputan-tim-redaksi-bait/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:39:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/dua-wanita-misionary-diancam-demi-misi-kristus-liputan-tim-redaksi-bait/</guid>
		<description><![CDATA[Dua Wanita Misionary Diancam Demi Misi Kristus Liputan : Tim Redaksi BAIT Setelah kurang lebih 2 bulan menjalani pelatihan yang cukup berat di kampus 1000 Missionary di Tompaso II, Kawangkoan, Minahasa, para misioari angkatan ke-8 dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. Ada yang ke Sukabumi (Jawa Barat), Jawa Tengah, pedalaman Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Nusa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=53&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dua Wanita Misionary Diancam Demi Misi Kristus<br />
Liputan : Tim Redaksi BAIT</p>
<p>Setelah kurang lebih 2 bulan menjalani pelatihan yang cukup berat di kampus 1000 Missionary di Tompaso II, Kawangkoan, Minahasa, para misioari angkatan ke-8 dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia. Ada yang ke Sukabumi (Jawa Barat), Jawa Tengah, pedalaman Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Sumbawa, Papua dan ada juga yang hanya di Sulawesi Utara, dekat dengan markas 1000MM.</p>
<p>Rani Lisal berpasangan dengan Amala Laloan diutus ke Desa Weoe, Atambua, NTT. Mereka ditugaskan selama 10 bulan di tempat itu. Penduduk desa itu menyambut para misionari dengan cukup ramah meskipun mereka tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia. Mereka lebih sering menggunakan bahasa daerah Tetun dan bahasa Portugis.<span id="more-53"></span></p>
<p>Tepatnya tanggal 28 bulan oktober 2009, Amala dan Rani misionari angkatan 8 dari 1000 MM tiba di Mission field mereka di Weoe Kec Wewiku Kab Belu (berbatasan dengan Timor Leste). Di desa ini hanya ada 1 keluarga yang belum lama dibaptis, di sinilah misionary tinggal.</p>
<p>Selama bulan November kedua misionari ini mengadakan friendship evangelism dengan cara mengunjungi rumah masyarakat, mengobati orang sakit dan juga mencari tempat kursus gratis bahasa inggris.</p>
<p>Memasuki bulan desember, dua misionari ini sedikit terbeban karena kampus memberikan saran supaya ada KPA. Mereka berduapun melipat gandakan waktu untuk berdoa dan memuuji Tuhan.</p>
<p>Ada seorang pasien datang ke rumah di mana misionari ini tinggal, seperti biasanya sebelum dan sementara mengobati, para misionari ini menceritakan pengalaman-pengalaman penyembuhan dalam Alkitab. Tangan Tuhan yang berkuasa ternyata bukan hanya menyembuhkan fisik pasien namun rohani mereka kembali disegarkan melalui dua hambaNya ini.</p>
<p>Ternyata bapak yang menjadi pasien begitu tertarik sehingga pertemuan itupun dilanjutkan dengan jadwal untuk mengunjungi beliau di rumahnya untuk belajar Alkitab. Puji Tuhan karena setelah misionari berada di rumah bapak ini ternyata bukan dia saja tetapi bapak ini mengundang teman-temanya yang lain untuk belajar Alkitab bersama sehingga terbentuklah satu kelompok KPA. Setiap sabat misionari mengadakan ibadah di rumah dan pemilik rumah mencoba mengundang teman bahkan tetangga akhirnya terbentuk juga 1 kelompok KPA lagi.</p>
<p>Melihat pekerjaan Tuhan yang semakin berkembang di daerah itu, kuasa yang lain tidak tinggal diam. Segala cara dilakukan untuk menghalangi pekerjaan yang dilakukan oleh dua wanita muda ini.</p>
<p>Bulan januari misionari ini tidak bisa lagi menggunakan obat-obatan yang mereka bawa dari kampus karena dilarang oleh pihak puskesmas yang ada di kecamatan, begitu juga kursus bahasa inggris ditutup karena kepala sekolah setempat melarang anak-anak untuk datang ke kursus.</p>
<p>Rani dan Amala terus berdoa dan muncullah ide untuk membuat WC umum, mengingat di desa ini ada begitu banyak penduduk dan umumnya tidak mempunyai WC.. Mereka membuat proposal dan berusaha untuk mencari dana. Sejak bulan pebruari sampai sekarang sudah ada 11 WC yang sementara dalam proses pembangunan. Masyarakat semakin interest terhadap pekerjaan misionari ini sehingga puncaknya pada hari sabat tanggal 3 april ada 15 orang yang dibaptiskan dari kelompok KPA mereka. Sepuluh orang dari yang dibaptiskan dari Protestan dan 5 orang dari Katolik. Mereka ini dibaptiskan di Kupang.</p>
<p>Hari kamis tanggal 8 april sekitar jam 17:30, saat mereka kembali ke rumah di Belu, mereka bersama dengan satu keluarga (suami-istri) bersama dengan dua simpatisan Advent melihat ada kejanggalan di sekitar tempat tinggal mereka. Saat itulah mereka mendengar suara ribut karena ada massa yang menyerbu rumah mereka. Waktu mereka melihat bahwa di antara masa tersebut terdapat orang-orang yang membawa senjata tajam, mereka melarikan diri ke hutan. Dalam pelarian itu mereka terbagi dua kelompok (Rani, Amala &amp; seorang ibu serta dua anak, ke arah lain sedang suami-istri pemilik rumah ke arah lain). Setelah situasi reda menjelang jam 12 malam, ibu yang bersama dengan kedua misionari ini lalu menelpon suaminya untuk minta di jemput. Setelah itu mereka di bawa ke kantor polisi, menginap di polsek dan sampai sekarang masalah mereka sedang diproses.</p>
<p>Sampai informasi ini diturunkan melalui buletin BAIT para misionari ini memiliki begitu banyak simpatisan termasuk kepala desa walaupun pimpinan-pimpinan agama terus menteror mereka. Meskipun demikian kedua wanita muda ini tetap percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah<br />
meninggalkan mereka meskipun sebelum mereka berangkat, mereka sudah sepenuhnya menyerahkan hidup mereka pada Tuhan. Bahkan bila mautpun menjemput itu merupakan suatu kebahagiaan sebagai harga yang harus dibayar untuk keselamatan jiwa-jiwa yang dibawa kepada Kristus.</p>
<p>Isu untuk mengusir para misionary ini dari Belu sebenarnya sudah terdengar sejak mereka belum lama menginjakkan kaki di daerah itu sehingga kedua misionary ini sudah siap dengan segala kemungkinan. Demo itu diprofokasi oleh oknum-oknum yang memang tidak suka dengan kehadiran orang Advent apalagi bila anggota mereka beralih menjadi Advent.</p>
<p>Sebenarnya banyak masalah yang terjadi, tapi Tuhan itu baik Nggak pernah Tuhan tinggalin kami demikian kata-kata Rani melalui telphone kepada adiknya. Tuhan itu baik seperti pada lagu &#8220;Tuhan batu karang kita, pelindung dalam bahaya&#8221; contohnya Daniel, Tuhan bisa saja tolong dia sebelum Daniel masuk dalam lobang singa atau seperti Sadrakh, Mesakh dan Abetnego pada waktu dilemparkan ke dalam dapur api, tetapi Tuhan mau menunjukkan kuasaNya sehingga orang lain akan semakin menyadari kuasa Tuhan itu. Pekerjaan Tuhan malah akan terlihat lebih jelas dan dekat ketika kita dalam bahaya, dan Tuhan pasti tolong kita.</p>
<p>Sekarang, kak &#8216;Rani dan temannya baik-baik saja. Rumah tempat tinggal mereka tidak dirusak hanya diacak-acak saja. Mereka masih tinggal di rumah itu. Banyak warga yang simpati dan membawa makanan dan minuman sewaktu masih di polsek. Demikian Melani menuturkan kondisi kakak dan teman kakaknya yang sekarang ini bertugas di Belu.</p>
<p>Kami menghimbau kepada semua umat Tuhan untuk terus mendoakan mereka. Mereka mempunyai terget untuk membangun gereja di ladang penginjilan mereka. Bila ada anggota jemaat yang mau membantu harap beritahukan agar di tempat itu boleh berdiri gereja Advent.BAIT<br />
Info : Pdt. Stenly Karwur, / Melany Lisal</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/53/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/53/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=53&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/dua-wanita-misionary-diancam-demi-misi-kristus-liputan-tim-redaksi-bait/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Buang Mobil Mewah di Timur Tengah</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kebiasaan-buang-mobil-mewah-di-timur-tengah/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kebiasaan-buang-mobil-mewah-di-timur-tengah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:37:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kebiasaan-buang-mobil-mewah-di-timur-tengah/</guid>
		<description><![CDATA[Kebiasaan Buang Mobil Mewah di Timur Tengah Qatar &#8211; Timur Tengah yang kaya minyak membuat warganya ikut makmur. Warga di sana pun terkenal tak segan membuang mobil di jalanan begitu saja, begitu mobilnya sudah tak layak lagi dipakai menurut ukuran mereka. Padahal mungkin bagi beberapa orang, mobil tersebut masih sangat bagus dan bisa dimanfaatkan. Tengok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=52&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebiasaan Buang Mobil Mewah di Timur Tengah</p>
<p>Qatar &#8211; Timur Tengah yang kaya minyak membuat warganya ikut makmur. Warga di sana pun terkenal tak segan membuang mobil di jalanan begitu saja, begitu mobilnya sudah tak layak lagi dipakai menurut ukuran mereka.</p>
<p>Padahal mungkin bagi beberapa orang, mobil tersebut masih sangat bagus dan bisa dimanfaatkan.</p>
<p>Tengok saja seperti dikutip dari dari crankandpiston, Kamis<br />
(22/4/2010) pemilik Jaguar XJ220 ini rela meninggalkan begitu saja sedan sport tersebut di sebuah gurun di Qatar. Entah apa yang terbesit di benak pemilik Jaguar XJ220 satu ini.<span id="more-52"></span></p>
<p>Kondisi Jaguar XJ220 sangat memilukan hingga warnanya pun kusam tidak ada yang menjemputnya, dibiarkan begitu saja. Padahal odometernya masih menunjukkan angka 900 km. Wow sebuah mobil tak bertuan.</p>
<p>Padahal Jaguar XJ220 bisa dibilang bukan sembarang mobil. Jaguar XJ220 yang merupakan mobil sport yang dikembangkan oleh Jaguar bersama Tom Walkinshaw Racing, dimana pertama kali dipamerkan pada tahun 1988 sebagai mobil konsep dan<br />
diproduksi pada 1992 sampai 1994.</p>
<p>Jumlah produksinya pun terbatas yakni hanya 281 unit saja dalam kurun waktu 2 tahun.</p>
<p>Di balik kap mesinnya, Jaguar XJ220 mengadopsi mesin berkapasitas 3,500 cc V6 twin-turbo yang bisa mengeluarkan tenaga hingga 542 Hp dengan torsi sebesar 645 Nm. Dari mesin tersebut Jaguar XJ220 bisa mencapai kecepatan maksimum hingga 220 mph dulunya. Sang pembesut juga menyiapkan mesin 6.200 cc dengan tenaga 500 Hp dengan sistem penggerak 4 roda all-wheel drive (AWD).</p>
<p>Kendati demikian, harga Jaguar XJ220 masih menorehkan harga yang cukup wah. Akibat modelnya yang futuristik, Jaguar XJ220 biasa memiliki nilai jual hingga<br />
115.000 euro atau sekitar Rp 1,4 miliar.</p>
<p>Namun dengan segudang angka menakjubkan itu, tetap saja, Jaguar XJ220 pun dibiarkan merana di padang pasir. ( ddn / ddn )</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=52&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/kebiasaan-buang-mobil-mewah-di-timur-tengah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Shakuntala Devi, Si Genius Matematika</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/shakuntala-devi-si-genius-matematika/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/shakuntala-devi-si-genius-matematika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:36:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/shakuntala-devi-si-genius-matematika/</guid>
		<description><![CDATA[Shakuntala Devi, Si Genius Matematika Kamis, 20 Mei 2010 &#124; 03:24 WIB OLEH FRANSISCA ROMANA NINIK dan ELOK DYAH MESSWATI Anda tidak suka pelajaran Matematika? Apakah berhitung dan angka menjadi momok bagi Anda? Temuilah Shakuntala Devi, si ajaib di dunia hitung-menghitung. Baginya, matematika bukanlah sesuatu yang menyeramkan, melainkan sesuatu yang menyenangkan. Sabtu (16/5) pagi hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=51&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Shakuntala Devi, Si Genius Matematika</p>
<p>Kamis, 20 Mei 2010 | 03:24 WIB</p>
<p>OLEH FRANSISCA ROMANA NINIK dan ELOK DYAH MESSWATI</p>
<p>Anda tidak suka pelajaran Matematika? Apakah berhitung dan angka menjadi momok bagi Anda? Temuilah Shakuntala Devi, si ajaib di dunia hitung-menghitung. Baginya, matematika bukanlah sesuatu yang menyeramkan, melainkan sesuatu yang menyenangkan.</p>
<p>Sabtu (16/5) pagi hingga siang hari di Pusat Kebudayaan India Jawaharlal Nehru (JNICC), Jakarta, Devi memperlihatkan kegeniusannya di bidang hitung-menghitung. Dia menjawab soal-soal yang diberikan hadirin kepadanya. Salah satunya, akar pangkat tiga dari 469.097.433. Begitu dia membaca soal itu, langsung dijawabnya dalam waktu tak lebih dari satu detik. ”777,” ujarnya.</p>
<p>Si penanya langsung membenarkannya, disambut tepuk tangan hadirin. Berulang-ulang Devi menjawab soal-soal dari hadirin dan berulang-ulang pula dia membuat hadirin terkesan.<span id="more-51"></span></p>
<p>”Saya sangat cinta pada angka. Angka bukanlah suatu ancaman. Bahkan, satu hal yang bisa kalian andalkan dalam hidup ini adalah angka,” ujar Devi.</p>
<p>Tak hanya menghitung soal pembagian atau perkalian angka dengan banyak digit, Devi juga dengan cepat mengetahui hari lahir hanya dari tanggal lahir hadirin. Devi pun menyukai astrologi terkait tanggal lahir, tetapi dia tidak meramal nasib.</p>
<p>Tak hanya itu, Devi dengan cepat dan benar mengatakan tanggal berapa saja dalam satu tahun yang merupakan hari Rabu, misalnya. Atau sebaliknya, tanggal 21 setiap bulan, misalnya, jatuh pada hari apa saja.</p>
<p>Tak ada coret-coretan di papan tulis atau di kertas untuk<br />
mengungkapkan bagaimana Devi menghitung semua angka itu dengan demikian cepatnya. Dia berkata, semua jawaban itu dengan cepat muncul begitu saja di otaknya.</p>
<p>”Saya melakukannya secara spontan. Tidak ada jarak antara pertanyaan dan jawaban. Saya sudah melakukannya dalam waktu yang lama dan rasanya sudah seperti bagian dari hidup saya,” ujarnya.</p>
<p>Saat ditanya apakah dia pernah salah memberikan jawaban, Devi mengatakan, ”Tidak, saya tidak pernah salah. Barangkali ada<br />
kebingungan jika pertanyaan tidak jelas, atau jika angka 4 terlihat seperti 9, bisa saja saya salah,” ujarnya.</p>
<p>Saat ditanya bagaimana dia melakukan semua itu. Sambil tersenyum, Devi menjawab, ”Itu semua anugerah Tuhan, anugerah Dewa Ganesha.”</p>
<p>Sejak kecil</p>
<p>Kegeniusan Devi sudah terlihat saat dia berumur tiga tahun. Lahir di Bangalore, India, pada 4 November 1939, bakatnya terlihat dalam permainan kartu bersama ayahnya yang bekerja di sebuah sirkus. Devi mengalahkan ayahnya dengan mengingat kartu-kartu, bukan karena tipuan sulap.</p>
<p>Pada usia enam tahun, Devi mendemonstrasikan kegeniusannya di hadapan mahasiswa dan profesor di University of Mysore, India, dengan mengerjakan penghitungan aritmatika yang rumit dengan secepat kilat. Dia melakukan hal yang sama pada usia delapan tahun di Annamalai University, Osmania University, dan Vizag University di India.</p>
<p>Dari berbagai penampilannya itu, dia mendapat julukan ”Anak Ajaib”, bahkan ada yang menyebutnya ”Human Computer”. Namun, ia menolak sebutan terakhir. ”Saya lebih dari komputer, saya memiliki hati,” katanya.</p>
<p>Devi berkeliling dunia mempertunjukkan kegeniusannya. Tahun 1977 ia mengalahkan komputer paling canggih kala itu untuk menghitung akar pangkat 23 dari angka 201 digit. Setelah melihat 201 digit angka itu, Devi menunduk, memejamkan mata, dan berkonsentrasi. Saat jarum pada stopwatch mencapai angka 50 detik, Devi membuka mata dan menjawab: 546.372.891. Komputer Univac 1108 memerlukan 62 detik untuk menjawab: 546.372.891.</p>
<p>Tanggal 18 Juni 1980 menjadi hari bersejarah sekaligus pengakuan formal atas kegeniusan Devi. Pada hari itu, dia menghitung perkalian angka 13 digit, 7.686.369.774.870 x 2.465.099.745.779, yang dipilih secara acak oleh sebuah komputer di London. Jawabannya<br />
18.947.668.177.995.426.462.773. 730 muncul dalam waktu hanya 28 detik. Nama Devi terukir dalam Guinness Book of Records.</p>
<p>Semua itu tidak didapat Devi dari bangku sekolah. Kepada Kompas, saat ditemui Jumat (14/5), Devi menuturkan, dirinya tidak mendapat kesempatan mengenyam pendidikan formal.</p>
<p>”Saudara saya tujuh orang. Saya harus melakukan semua pekerjaan rumah tangga keluarga kami,” ujarnya. Semua saudaranya lulus sekolah menengah atas, tetapi tidak satu pun memiliki kegeniusan seperti yang dimilikinya.</p>
<p>Bertemu Soekarno</p>
<p>Kemampuan itu telah membawa Devi keliling dunia, lebih dari 120 negara, dan bertemu tokoh-tokoh dunia. Salah satunya adalah Soekarno, presiden pertama RI yang dia temui pada tahun 1961.</p>
<p>Devi menuturkan, waktu itu Perdana Menteri India pertama, Jawaharlal Nehru, menceritakan kepada Soekarno tentang remaja India yang genius dalam bidang hitung-menghitung.</p>
<p>Soekarno, yang juga suka matematika, tidak percaya. Lalu Nehru ”mengirimkan” Devi ke Jakarta agar dia dapat mempertunjukkan kebolehannya di Istana Negara, Jakarta.</p>
<p>”Beliau (Soekarno) sangat terkesan dan menghadiahi saya gelang yang masih saya simpan di India. Mereka bilang, saya mirip salah satu putri Soekarno,” kenang Devi sambil tertawa.</p>
<p>Kunjungan Devi ke Indonesia sekarang ini merupakan kedatangan yang kedua kali. Dia menyatakan sangat senang, Jakarta sudah berkembang dibandingkan tahun 1961.</p>
<p>Devi kini tengah menanti kerja sama dengan penerbit Gramedia untuk menerbitkan buku-bukunya dalam bahasa Indonesia agar pengetahuan yang dimilikinya bisa dibagikan kepada anak-anak Indonesia.</p>
<p>Devi mengabdikan hidupnya untuk membuat anak-anak yang takut matematika menjadi suka matematika. Dia memberikan konsultasi, menulis buku, dan melatih anak-anak yang kesulitan dalam matematika di berbagai tempat.</p>
<p>Ada 14 buku yang sudah Devi tulis, 6 di antaranya adalah buku matematika. Bukunya yang berjudul Wonderland of Numbers bercerita tentang anak India bernama Neha yang tidak menyukai matematika, tetapi kemudian berubah menjadi jago matematika. Buku ini banyak<br />
menginspirasi anak-anak di India sehingga mereka tak lagi membenci matematika.</p>
<p>Dengan segenap kecintaan terhadap dunia angka, dia mendirikan Shakuntala Devi Educational Foundation Public Trust di tempat kelahirannya, Bangalore. Yayasan itu akan dibuka Mei 2010 ini.</p>
<p>”Mimpi saya adalah membagikan pengetahuan saya kepada seluruh dunia. Saya ingin mengubah cara berpikir tentang matematika supaya anak-anak tak lagi menjadikannya sebagai musuh,” tuturnya menutup perbincangan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=51&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/shakuntala-devi-si-genius-matematika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mahalnya Bermobil di Kota Besar</title>
		<link>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/mahalnya-bermobil-di-kota-besar/</link>
		<comments>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/mahalnya-bermobil-di-kota-besar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 06:34:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>doli08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/mahalnya-bermobil-di-kota-besar/</guid>
		<description><![CDATA[“SAYA tidak pernah mengalami kecelakaan, jadi, mudah-mudahan perjalanan kita hari ini tidak apa-apa,” sahut Nyonya Yokoo sambil mengendalikan kemudi. Hari itu, Nyonya Yokoo berbaik hati menawarkan tumpangan di mobilnya untuk bersama-sama menghadiri pentas drama boneka anak-anak TK Izumi. Komentar Nyonya Yokoo itu dapat saya artikan sebagai model orang Jepang tradisional yang merasa perlu melaporkan prestasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=50&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“SAYA tidak pernah mengalami kecelakaan, jadi, mudah-mudahan perjalanan kita hari ini tidak apa-apa,” sahut Nyonya Yokoo sambil mengendalikan kemudi. Hari itu, Nyonya Yokoo berbaik hati menawarkan tumpangan di mobilnya untuk bersama-sama menghadiri pentas drama boneka anak-anak TK Izumi.</p>
<p>Komentar Nyonya Yokoo itu dapat saya artikan sebagai model orang Jepang tradisional yang merasa perlu melaporkan prestasi menyetirnya pada orang yang diberinya tumpangan, sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai pengemudi.</p>
<p>Telah masyhur di kalangan pendatang dari Indonesia, tentang ketakjuban akan ketidaksemrawutan lalu lintas jalan raya di Jepang. Para pejalan kaki menyeberang di zebra-cross, hampir tak ada motor yang sengaja menyerobot trotoar pejalan kaki, mobil-mobil yang melaju teratur di jalurnya.<span id="more-50"></span></p>
<p>Bahkan, lebih dari itu, suara klakson jarang sekali terdengar. Kami yang tinggal di pinggir jalan raya yang cukup ramai, bisa menghitung dengan jari satu tangan saja dalam sehari berapa kali bunyi klakson dapat terdengar. Keteraturan ini bisa membuat orang Indonesia yang kelamaan di Jepang, jadi kagok saat mesti menyeberang jalan di tanah air, lantaran serbuan lalu lintas yang tak tentu arah.</p>
<p>“Saya kagum dengan orang Indonesia. Mereka hebat sekali menyetir. Meski padat dan semrawut, tidak terlalu banyak kecelakaan dan sepertinya banyak orang yang sabar di jalanan. Kalau di Jepang, bawa mobil dengan gaya menyetir seperti di Indonesia, bisa habis-habisan orang bertengkar karena tidak menaati peraturan dan sopan-santun di jalan,” seloroh Ueno-san, seorang laki-laki penduduk Tokyo berusia 65 tahun sepulang dari Jakarta.</p>
<p>Keteraturan lalu-lintas di Jepang cukup menggiurkan mereka yang bisa bermobil.</p>
<p>“Ayo, ambil saja SIM, di sini kan aman, kemungkinan kecelakaannya kecil,” saran seorang teman Indonesia. Namun, sampai sudah hitungan belasan tahun bermukim di negeri Matsuri ini, tetap saja kami tak pernah punya mobil.</p>
<p>“Saya juga ditawari suami untuk ambil SIM,” imbuh Nyonya Yamano, seorang ibu rumah tangga dari Indonesia yang menikah dengan pria Jepang, “Tapi saya tidak mau. Sayang rasanya membayar biaya kursus sebesar 240 ribu yen.”</p>
<p>Memang, salah satu hal yang membuat orang sulit punya SIM mobil di Jepang adalah besarnya biaya kursus yang wajib dijalani untuk mendapatkan SIM. Berkisar antara 200 ribu hingga 300 ribu yen, atau sekitar 20 juta hingga 30 juta rupiah. Ini jelas lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat pulang pergi dan mengurus SIM internasional di tanah air. Bila ada SIM internasional, bisa langsung ikut tes dengan biaya sekitar 10.000 sampai 20.000 yen satu kali tes.</p>
<p>Biaya Parkir<br />
Hal lain yang membuat orang tak mudah memiliki mobil adalah mahalnya biaya parkir. Bagi mereka yang tinggal di lokasi yang tidak<br />
menyediakan lapangan parkir gratis, mesti menyewa lahan parkir yang cukup mahal.</p>
<p>Di Kota Fujisawa, Provinsi Kanagawa, misalnya, sepetak lahan parkir untuk satu mobil, di lokasi yang cukup jauh dari stasiun kereta, sebulan berkisar 10.000 yen atau satu juta rupiah. Sedangkan bila di pusat Tokyo, biaya sewa parkir bisa mencapai 3 juta-4 juta rupiah per bulan.</p>
<p>“Kami membayar parkir di apartemen sebesar 21.500 yen setiap bulan,” ujar Nyonya Kondo, seorang wanita asal Jawa Tengah yang menikah dengan pria Jepang. Meski mahal bagi orang Indonesia, Nyonya Kondo mengatakan bahwa suaminya tetap ingin mempertahankan keberadaan mobil, karena mereka memiliki anak kecil. Tanpa mobil, keluarga Kondo merasa berat bila sewaktu-waktu harus ke rumah sakit besar yang agak jauh.</p>
<p>Mereka menggunakan mobil hanya di akhir pekan, khususnya untuk berekreasi ke tempat-tempat yang jauh. Mobil tidak digunakan setiap hari ke kantor, juga tidak untuk berbelanja sehari-hari. “Urusan belanja saya sendiri yang selesaikan, biasanya cukup jalan kaki atau naik kereta,” ujar Nyonya Kondo. Dengan frekuensi pemakaian seperti ini, biaya bensin sebulan mencapai 10.000 yen atau sekitar satu juta rupiah, aku Nyonya Kondo.</p>
<p>Selain bensin, biaya sehari-hari yang perlu disiapkan mereka yang punya mobil di kota-kota besar Jepang adalah biaya parkir sementara. Harga parkir mobil sementara juga lumayan mahal, di pinggiran kota berkisar antara 200-300 perjam. Di pusat kota Tokyo sendiri, harga sewa parkir sementara mencapai 200 yen per 15 menit, atau 800 yen perjam, yang bila dirupiahkan kira-kira mencapai 80.000 rupiah per jam.</p>
<p>Kadang-kadang ada juga yang ‘nakal’ ingin parkir barang sebentar di pinggir jalan, cuma kalau lagi bernasib kurang beruntung, bisa kena tilang yang tidak tanggung-tanggung, mencapai Y15.000, atau sekitar 1,5 juta rupiah.</p>
<p>Pengalaman buruk ini pernah dialami Keluarga Yamano. “Suami waktu itu rencananya menunggu di mobil saja. Karenanya, mobil diparkir sementara di pinggir jalan, sementara saya masuk ke dalam toko. Tapi karena berpikir cuma sebentar, suami tertarik untuk ikut masuk dengan meninggalkan mobil di sana. Saat kami kembali, ada stiker tilang yang tertempel di kaca mobil. Kami melapor ke polisi yang kemudian menyalin keterangan di stiker tersebut dan member kami slip pembayaran yang harus kami lunasi di bank dalam waktu seminggu,” keluh Nyonya Yamano. “Sejak saat itu, kami tak mau lagi parkir sembarangan. Lebih baik bayar 300 yen sewa parkir daripada kena tilang sampai satu setengah juta rupiah,” lanjutnya.</p>
<p>Melakukan pelanggaran lalu lintas di Jepang memang bisa tidak tanggung-tanggung menguras kantong. Tidak ada uang damai di tempat, karena tidak ada polisi Jepang yang mau disogok. Pembayaran denda pun dilakukan bukan di tempat atau di kantor polisi, tapi semuanya lewat bank dan semua ada bukti hitam di atas putih.</p>
<p>Kondo-san, seorang laki-laki yang saat itu berdomisili di Chiba, mengaku pernah terkuras koceknya lantaran mengemudikan mobil di atas kecepatan yang diperbolehkan. Saat itu, tak ada polisi yang bertugas di jalanan. Namun, kamera yang dipasang berhasil merekam pelanggaran yang ia lakukan.</p>
<p>Peringatan dan kewajiban membayar denda datang lewat kartu pos. Besar denda yang harus dibayarnya mencapai 100.000 yen, atau sekitar 10 juta rupiah. Tidak hanya itu, ia juga dilarang menyetir selama enam bulan. Namun beruntunglah, dengan masuk sekolah menyetir kembali dengan membayar sebesar 20.000 yen atau sekitar dua juta rupiah, larangan menyetir yang enam bulan itu diperpendek cukup tiga bulan saja.</p>
<p>Pengalaman kena denda karena pelanggaran lalu lintas juga dialami Rini, seorang mahasiswi Indonesia yang saat itu bermukim di Toyohashi. “Surat tilangnya datang ke rumah setelah saya pindah ke Indonesia. Saat itu suami masih menetap di Toyohashi. Saya diminta hadir di ruang sidang untuk sekedar mengaku saya bersalah. Pihak pengadilan tidak mau saya diwakilkan suami atau sekedar lewat telepon. Terpaksa saya kembali ke Jepang hanya untuk menghadiri pengadilan tersebut. Bila menolak datang, mungkin saja saya masuk daftar cekal, tak bisa lagi masuk ke Jepang.”</p>
<p>Itulah sebabnya, bermobil tak selalu enak di Jepang. Bagi kebanyakan keluarga di Jepang, memiliki mobil cukup satu saja, dipakai untuk keperluan berakhir pekan atau sekedar mengantar anggota keluarga ke stasiun kereta.</p>
<p>Tidak Mau Menyetir<br />
Keluarga Takaoka yang berdomisili di Fujisawa, Provinsi Kanagawa, bisa jadi contoh ketidakbergantungan orang Jepang dengan mobil pribadi. Nyonya Takaoka yang memiliki empat orang anak dengan jarak usia berdekatan ini, menolak sama sekali untuk belajar menyetir.</p>
<p>“Kalau saya menyetir, entah sudah berapa orang yang saya bunuh,” katanya sambil tertawa. Ia memilih bersepeda ke mana-mana, dan melatih anak-anaknya yang sudah cukup usia untuk segera bisa mandiri menggunakan sepeda.</p>
<p>Saat tiga anaknya masih kecil, aktifitas Nyonya Takaoka sering menarik perhatian penduduk di sekitar tempat tinggalnya. Wajar saja, karena ada tiga anak kecil yang ia angkut sekaligus di atas satu sepeda. Satu di boncengan depan, satu di boncengan belakang, dan satu lagi dalam gendongan bayi di pundaknya.</p>
<p>Beruntunglah, kedisiplinan dan keteraturan para pengguna jalan raya memungkinkan sang ibu untuk melakukan ‘atraksi’ berani seperti itu. Juga memungkinkan anak-anak kecil untuk bersepeda di tepi jalan raya tanpa selalu diawasi orangtua. Memang, mobil-mobil biasanya akan sangat berhati-hati terhadap pengguna sepeda kanak-kanak atau mereka yang membonceng anak-anak. Nyonya Takaoka telah melewati masa-masa berat itu, kini, anak bungsunya sudah tak perlu lagi ia bonceng, karena sudah bisa naik sepeda sendiri.</p>
<p>Untuk ke sekolah atau ke kantor, umumnya orang Jepang memilih bis, atau kereta yang tak pernah terlambat, kecuali bila ada kecelakaan. Memiliki mobil banyak-banyak adalah sebuah kebodohan dan sangat menguras kantong bagi penduduk Jepang. (*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/doli08.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/doli08.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=doli08.wordpress.com&amp;blog=6523861&amp;post=50&amp;subd=doli08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://doli08.wordpress.com/2010/06/14/mahalnya-bermobil-di-kota-besar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0d35362a18ab04ae1a7d7ba868f9137b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">doli08</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
